Sama vs Beda

Akur vs Cekcok

Ntah siapa yang menanamkan nih pola pikir dalam diri gua, tapi gua selalu beranggapan kalau orang yang mirip sifatnya itu harusnya bisa get along well together.

Harusnya mereka lebih bisa memahami satu sama lain karena biar gimana khan mereka sama githu lhoo..

Maka dari itu gua juga beranggapan yang kebalikannya, kalau beda pasti ngga cocok, bakal banyak gesekan yang terjadi, singkatnya dunia ga bakal tenang dhe aww..

Tapi ternyataa..

Ngga selalu githu juga ya.

Tergantung sama-nya dalam hal apa and beda-nya dalam hal apa serta seberapa jauh mereka memandang dan menyikapi baik persamaan maupun perbedaan yang terbentang di antara mereka.

Misalnya gini..

Kalau sama2 keras kepala, ngga mau ngalah and ngerasa dirinya yang selalu benar, hayoo cobaa pertemukan dua orang dengan sifat seperti di atas barengan dan pastikan mereka memiliki pandangan yang berbeda tentang suatu hal, maka (hampir) dapat dipastikan bahwa pertengkaran akan berlangsung dengan sengit ‘boo!

Kalau perlu sampai berbabak2.com, ahahaha..

Btw, sambil nulis di atas gua jadi kepikiran s’thing..

Bahwa tidak ada persamaan tanpa perbedaan dan ngga ada perbedaan tanpa persamaan.

Bingung yaa?

Sama donksss..

Gua juga lagi berusaha mencerna lebih lanjut apa yang gua tulis di atas itu, ahahaha :p

Maksudnya gini..

Perhatiin dhe, gua nulis ‘sama’ dalam satu kalimat dengan ‘beda’.

Jadi yaa pada dasarnya ngga ada orang yang totally sama dan ngga ada orang yang totally beda.

Haiyaa.. Itu maah nenek gua juga udah tau yaa?

Duh, Emak, dikau bijaksana sekalee seeh, hihihi..

Balik lagii..

Iya lhoo..

Orang yang beda di berbagai macam hal pun ternyata bisa akur barengan karena in a way mereka bisa saling melengkapi.

Ngga percaya?

Orang yang pendiam kalau digabungin ma orang yang bawel, bisa jadi mereka anteng duduk bareng berjam2 sambil ngopi lho.

Kenapa?

Karena mungkin si pendiam itu jarang bicara tapi senang mendengarkan.

Sementara si bawel itu senang bicara tapi lupa mendengarkan.

Tuh khan, klop toh?

Coba bayangkan kalau si bawel yang menuntut untuk didengarkan ketemu ama si bawel lainnya yang juga hobi ngomong tanpa mau mendengarkan, bisa repot khan?

And kebayang ngga betapa bisingnya kalau mereka ketemuan? Ahahaha..

I always love balancing and something in between.

Gua ga cocok ama yang kelewat bawel and mati gaya ma yang kelewat pendiam, ahahahaha..

And I guess there’s a chattery side in each person.

Orang itu pada dasarnya senang berbagi cerita tentang dirinya.

Tapi yaa..

Mungkin aja belum nemu teman yang ‘pas’ yang bisa bikin dia akhirnya buka suara dan berbagi cerita.

Gua ngga yakin ada orang yang benar2 diam ama semua orang.

Karena ada yang bilang tiap manusia butuh untuk menyalurkan sekian ribu (apa puluhan ribu ya? -lupa-) kata setiap harinya.

Iya, gua ngga salah nulis kok, setiap hari.

Bahkan kaum wanita dibilang kebutuhannya itu lebih banyak dari pria, ahahaha, makanya jangan heran kalau wanita a bit chattier than men ^o^

Udah dari sononya githu kalee, bawaan orok, hihihi..

Anywayy..

Kalau buat gua pribadi sih kalau terlalu sama juga in the end bakal bosen lha yauu..

Mungkin awal2nya seneng kalau ketemu ama orang yang nge-klik bangets neeh, udah punya hobi yang sama, eehh terus pola pikirnya juga seiya sejalan.

Jadilah bisa finish each other sentences sebelum yang berbicara kelar mengucapkannya.

Uhuyy.. Mantaps khan tuh.

Yeaahh.. For a whilee..

Sebelum akhirnyaa, bosen juga kali yaa, ahahhaa..

Kalau tiap apa yang mau kita omongin, tuh orang selalu tau, duuhh, ngga ada greget lagi.

It’s like an open book.

Ngga ada yang perlu disingkap lagi, no such thing as mystery, bukan misery lho yaa, ahahaha..

Enakan toh kalau kita masih bisa bertanya :

Kenapa begini? Kenapa begitu?

Masa iya begini? Kenapa ngga begitu?

Mungkin karena gua demen bertanya dan menyimpulkan, ahahaha..

Lha, kalau semuanya udah bisa gua prediksi dan apa yang gua prediksi biasanya udah bener yaa ngga ada enaknya lagi donks bertanya2 dan menyimpulkan?

I have this one friend yang menurut gua sih lumayan beda ma gua.

Tapi ternyata the more I got to know dia, we’re similar in certain ways, much more the same daripada yang pernah gua bayangkan.

Gua kadang mikir, porsi antara persamaan dan perbedaan ini juga musti balance kali ya kadarnya, especially in terms of marriage.

Iyaa, biasanya yang berbeda itu terlihat lebih menarik karena yang sama khan monoton.

Opposite attractions

Tapi how very much different seeh sebenarnya yang masih dalam kadar ‘sehat’?

Mungkin kalau satu sama lain bisa saling menghargai kesukaan dan kesenangan (lho, sami mawon :p) masing2 yang berbeda seeh maka okay2 it’s yaa..

Tapi kalau yang satu harus mengorbankan kesenangannya demi untuk pasangannya..

Hmm..

Di mana yang namanya kompromi ya?

Itu khaaann.. Ngga sehat juga.

And I guess in long terms, ini bisa jadi benih terpendam untuk pertikaian.

Kalau melepaskan kesenangannya dengan rela seeh ya bagus.

Tapi kalau terpaksa demi menyenangkan pasangan?

Yaa, kalau pasangannya bisa ngeliat ‘pengorbanan’ kita itu.

Ngga tau yaa..

Gua selalu beranggapan ngga baik to feed one’s ego.

Karena once we did that, jangan salahkan kalau dia menuntut lebih banyak lagi dari kita until we reached our limit when we feel like we have had enough!

Keras kepala?

Yaa.. Nyokap seeh bilang gua keras kepala, huehehehe..

Tapi gua sih ngerasanya biasa2 aja tuh.

Kalau dilarang sesuatu and larangannya masuk akal yaa gua juga nurut kok.

Tapi kalau mereka ga bisa menjelaskan alasan yang menurut gua masuk akal plus gua ngga ngeliat di mana bahayanya melakukan hal itu jadi yaa gua ngga ngeliat perlunya pelarangan itu sendiri yang memungkinkan one day I might do it anywayy..

Paling sebel kalau misalnya nanya kenapa dilarang ini itu, eehh dijawabnya :

Pikir aja sendiri! Masa githu aja ga tau?!

Ya elaahh.. Justru karena udah mikir makanya nanya, lagian apa yang gua pikirkan itu khan belum tentu sama toh?

Emangnya gua a mind reader apa?

Uhuyy..

Mulai kaga fokus, ahahaha..

Jadii..

How very different are we from each other?

And how very much the same are we?

And with all those differences and similarities, are we getting closer or further apart?

-Indah-

Advertisements

4 Comments »

  1. Beda = sama

    tergantung angle liatnya ndah πŸ™‚

    and tergantung gimana kita mau meresponinya.

    Seperti contoh soal org pendiem and bawel tadi πŸ™‚

    ~.*.~

    @ Ekaa : Betul betull.. tergantung mo ngeliatnya pake kacamata apa, ahahaha.. and again, bener kata elo, Kaa, tergantung juga gimana mo ngeresponnya πŸ˜€

  2. togarsilaban Said:

    Kurang lebih saya bisa nangkap cerita ini, tapi trus terang nggak ngerti semua..

    Bertahun-tahun lalu, saya sering merasakan seperti ini. Dengan berlalunya waktu, satu persatu semakin jelas…..

    Mejuah-juah…

    ~.*.~

    @ Togarsilaban
    : Aahh aahh.. diriku sedang menantikan datangnya kejelasan itu, hehehe πŸ˜€

  3. dhianofie Said:

    salam kenal brO.. niCe Blog…

    ~.*.~

    @ Dhianofie : Aiihh.. diriku bukan broo :p

  4. Arman Said:

    iya betul sekali.
    gak selalu perbedaan itu jadi masalah… justru bisa saling melengkapi…
    tapi ya kayak yang lu bilang juga, toh gak mungkin ada orang yang semuanya beda (pasti ada samanya) atau semuanya sama (pasti ada bedanya)…

    yang penting jangan extrim dan harus balance… πŸ™‚

    ~.*.~

    @ Arman : Ayy.. itu part yang penting, about balance, hehehe πŸ˜€


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: