Idol & Impact

Sometimes gua bertanya2, seberapa besar sih pengaruh orang yang menjadi idola elo itu dalam hidup elo?

Gua kemarin ini sempat menyebarkan sms ke teman2 gua untuk menanyakan ke mereka siapa sosok orang yang mereka kagumi, dan apa pendapat mereka tentang orang yang mereka kagumi itu dan seberapa banyak kemiripan mereka dengan orang yang mereka kagumi itu?

Yang jawab cuman dikits *sigh*

Dari yang dikit itu lebih dikits lagi yang punya sosok idola dalam hidup mereka, hahaha :p

Tapi lumayan, dari yang mau jawab itu, gua sempat membahas lebih lanjut jawaban mereka via ym or telp jadi bisa dapat gambaran yang lebih jelas aja.

And gua jadi mengambil kesimpulan bahwa ini bagai lingkaran tanpa ujung.

It’s either because you’re idolizing someone then in time you’re becoming more like the person you idolized.

Or..

You’re idolizing that person because in a way you find a similarity between the two of you.

Gua pernah denger ada yang bilang bahwa manusia itu pada dasarnya narsis.

Baik secara sadar atau ngga sadar, mereka cenderung mencari orang yang mirips ma dirinya.

Kemiripan ngga harus dari segi fisik belaka, tapi bisa kesamaan hobi, kesamaan kisah hidup, kemiripan sifat dan pola pikir, bahkan bisa karena sama2 membenci hal yang sama makanya bisa berasa klop ama seseorang.

Apapun alasannya, pasti ada ‘sesuatu’ di sana yang membuat kita ngerasa ‘klik’ ama orang tertentu and datar2 aja ama orang lainnya.

Back ke soal idol.

Kalau mau ditarik satu kesimpulan mengenai benang merah yang menghubungkan antara berbagai orang yang pernah menjadi idola gua, rasanya kata yang tepat untuk menggambarkan mereka adalah :

Charming.

Bukan ganteng, tapi lebih ke arah menarik dan mempunyai pesona tertentu.

And for me, charming itu lebih eternal karena apa yaa?

It comes from within kali ya makanya ngga menjadi lapuk termakan waktu.

I do believe that sepandai2nya orang merawat kecantikan lahiriahnya, ngga bisa bohong pasti akan termakan usia juga.

Seperti kulit yang mulai mengendur dan ngga lagi kenyal. Garis2 kerutan dan keriput yang makin banyak. Rambut2 yang mulai memutih.

Ini semua proses alami yang akan dialami setiap manusia.

Tapi apa yang ada dalam diri kita itu bisa lebih lama daya tahannya.

Hmm.. Hmm..

Kayanya gua udah mulai ngelantur, wakakakak :p

Balik lagi ke idol.

Kalau berbicara soal pengarang, gua punya pengarang favorit yang mempunyai kesan mendalam buat gua melalui hasil karyanya dia yang udah menemani gua dari sejak masa kecil dulu.

She’s none other than..

Enid Blyton!

Salah satu keuntungan menjadi anak kelahiran tahun 1979 adalah ketika gua kecil, masih banyak tersedia buku cerita anak2.

Mereka yang seumuran gua dewasa ini, pasti masa kecilnya dulu akrab dengan pengarang macam Enid Blyton, Astrid Lindgren, E. Nesbit, H.C. Andersen, dan lain sebagainya.

*udh ga inget juga nama2 mereka :p*

Karya Enid sendiri banyak bangets ragamnya dari mulai tentang kehidupan anak2 di sekolah berasrama macam Mallory Towers, St. Claire dan seri si Badung.

Belum lagi seri petualangan macam : Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga, Seri Petualangan, dan lain-lain.

Atau cerita macam : Rumah Pohon Di Tengah Hutan (eehh, ini Enid bukan yaa? :p), Rumah Beratap Merah, Anak2 Liar, dan banyak lainnya.

Atau cerita anak2 dari pengarang2 lainnya macam : seri Pippi si Kaus Kaki Panjang, Ronya Anak Penyamun, Katy, Anak2 Kereta Api, Deni Manusia Ikan, serial Smurfs, Taman Rahasia, dan banyaaaakk lainnya.

Bisa dibilang masa2 gua kecil dulu adalah masa keemasaan buku cerita anak.

And I grew up with that.

Mungkin itu sebabnya children stories will always have a special place in my heart.

And walaupun sampai saat ini gua udah mulai membaca jenis2 buku lainnya, kedudukan buku anak2 dalam hati gua itu ngga tergantikan.

Balik ke soal Enid.

Salah satu alasan kenapa gua suka buku2nya si Enid adalah karena ceritanya variatif bangets.

Ngga hanya tentang keseharian yang mungkin aja bisa gua alami dalam kehidupan sehari2, Enid juga piawai dalam menyajikan cerita2 imajinatif yang membuat pikiran mengembara ke dunia khayalan.

Secara umum kisah Enid itu bisa dibilang simpel dan mengandung pesan bahwa kebaikan pasti menang melawan kejahatan.

Dan Enid juga banyak mengajarkan tentang nilai2 yang patut dimiliki sejak masa kanak2 agar terbawa sampai dewasa nanti.

Salah satu contoh yang bagus mungkin adalah : Anak2 Liar di mana 2 keluarga yang bertolak belakang itu hidup berdampingan.

Keluarga yang satu itu anak2nya sopan sekali, jujur, tau tata krama, tipe anak yang ngga akan lupa mengerjakan pekerjaan sekolah dan senang hati membantu ibu mereka melakukan pekerjaan rumah.

Tapi di saat yang sama, mereka menjadi takut untuk mencoba hal2 yang baru, cengeng, pengadu, dan gampang menyerah.

Keadaan anak2 di rumah tetangga mereka sungguh berkebalikan.

Mereka tidak tau sopan santun, gampang berbohong, egois, kasar dan jarang berdoa.

Tapi mereka juga anak yang berani mencoba, tidak takut melakukan hal2 baru, kreatif dan ngga cengeng.

In the end, kedua tipe anak2 ini saling menularkan kebaikan mereka masing2 dan mengikis sifat2 ngga baik dalam diri mereka.

Ada satu hal yang berkesan bangets buat gua menjelang akhir cerita.

Jadi, si ibu anak2 kasar ini sakit dan harus menginap di rumah sakit.

Sang anak berjanji bahwa ia akan berubah menjadi anak yang lebih baik, ia akan membantu orangtuanya dalam hal mengurus pekerjaan rumah dan menjaga adik2nya.

Tapii..

Sang anak melakukan tawar menawar dengan Tuhan, ia berjanji akan berubah asalkan ibunya sembuh seperti sedia kala.

Anak itu lalu dinasihati, bahwa ia ga boleh tawar menawar dengan Tuhan.

Jika ia telah berjanji pada Tuhan bahwa ia akan berubah dan betapa ia menyesali perbuatannya dulu dan berjanji tidak akan mengulanginya, maka ia harus menepati janjinya itu, apapun jawaban Tuhan nanti akan doanya tentang ibunya.

Andai ibunya tidak kembali lagi padanya pun, ia harus tetap memegang janjinya.

Wooww..

Ntah kenapa, pas bagian ini berkesan bangets buat gua.

Dan bikin jadi mikir..

Jangan2 selama ini gua udah bersikap seperti anak itu?!

Seringkali ketika berdoa itu seperti sedang mencoba melakukan tawar menawar dengan Tuhan?

Tuhaann.. Saya berjanji melakukan ini asalkan Tuhan memberikan saya ini itu and bla bla blaa..

*sepertinya daftar keinginan gua itu jauuuh lebih panjang daripada daftar hal yang rela gua lakukan untuk mendapatkan apa yang gua mau itu!*

Ahahahaha..

Pantesan aja selama ini ga dapat2 yang gua mau, hihihi πŸ˜€

Mungkin harus mulai pasrah kali ya ama hasil akhirnya.

Khan sering tuh dibilang :

Do your best and let God take care the rest!

Iyaa.. Lakukanlah sebaik yang elo mampu dan pasrahkan hasilnya ke dalam tangan Tuhan, even mungkin hasilnya ngga sesuai harapan kita but kita hanya perlu percaya that it’s for the better!

Back to soal Enid and idol.

*kayanya emang paling enak kalau cerita tuh muter2, hahaha*

Hal yang paling mengesankan buat gua dari karyanya si Enid ini adalah tentang persahabatan, keluarga dan alam.

And ngga ngerti juga apa karena gua suka karya2nya Enid maka gua jadi menganggap 3 hal itu penting buat gua?

Atau emang sebenarnya tiga hal di atas itu pada dasarnya penting buat gua and Enid hanya membawa ke permukaan apa yang selama ini tanpa gua sadari ada dalam diri gua?

Ngga penting juga, hahahaha πŸ˜€

Pastinya I’ve learnt a lot from her stories.

And as for nature, belakangan ini emang ngerasa banyak belajar dari alam.

Dan Enid, dengan kecintaannya akan alam telah membangkitkan sisi dalam diri gua yang merindukan tempat yang asri, tenang dan being close with nature.

Makanya sampai sekarang masih mupeng pengen megang dan merah sapi, terus pengen tidur2an di rumput sambil memandang langit yang terbentang luas.

And don’t know whyy..

Belakangan rasa pengen close to nature itu masih tetap ada dalam diri, huhuhu..

Kapan yaa bisa beneran being in nature?

And because of Enid, gua jadi pengen one day I can be a writer like her, yang bisa menyuguhkan cerita anak yang sarat pesan moral tanpa kesan menggurui.

Huaa..

Rasanya masih jauuuh bangets perjalanan untuk bisa jadi seperti idola gua itu, huehehe :p

Kemarin ini temen gua bilang ke gua :

Walaupun dulu gua pernah kagum ama seseorang, gua ngga yakin sosok gua saat ini adalah berkat dulu gua pernah kagum ama dia.

And I don’t think I want to be like her juga. Karena gua adalah gua, gua ngga mau kehilangan identitas diri dengan menjadi sama seperti dia!

Lhoo?

Yang bilang karena elo mengidolakan seseorang maka elo harus jadi sama seperti dia itu siapaa?

And andai elo mau jadi sama sekalipun, gua ngga yakin bisa sama persis 100% aahh..

‘Cause we’re all different.

We might like the same thing(s), look-alike, think alike but I believe deep down we’re still different.

Dan lagi kalau ada hal baik yang bisa kita contoh dari idola kita, why not?

Who we are itu bukanlah sesuatu yang stagnant.

Kita terus berkembang seiring berlalunya waktu.

Setiap perjumpaan membuka kesempatan untuk mengembangkan diri kita ke arah yang lebih baik.

Setiap perpisahan mendorong kita menjadi pribadi yang lebih kuat dalam menghadapi cobaan dan mengevaluasi diri supaya ngga mengulangi kesalahan yang sama serta belajar memaafkan serta berbesar hati mengakui peran serta kita dalam mewujudkan perpisahan tersebut.

Dan yaa, gua pikir dengan menjadikan seseorang itu juga jangan sampai membabi buta dengan membenarkan semua hal yang dilakukannya menjadi benar adanya padahal kita tau dia salah, ahahaha :p

Dipikir2 ini sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing2 seehh..

Kalau gua ngerasa gua itu tipe yang butuh seseorang untuk dijadikan panutan.

Rasanya dengan ada seseorang yang dijadikan acuan, lebih terarah aja githu, kalau melenceng juga ga terlalu jauh, huehehe..

Walau hasil akhirnya belum tentu sama tapi ngarepnya seeh ngga terlalu beda jauh ama sang idola, ahahaha ^o^

La la laa..

Gua lagi coba mengingat2 apa2 aja yang udah gua tulis dari awal, ehemm..

Nyambung ga seeh ama judul? :p

Met Minggu aahh..

Satu pertanyaan yang belum terjawab :

Kenapa seeh kalau hari Minggu tuh waktu lebih cepat berlaluu??

*apa karena ga terlalu menantikan hari Senin? :p*

-Indah-

Advertisements

4 Comments »

  1. mpokb Said:

    penggemar enid juga ya Ndah? dulu paling suka lima sekawan (sebelum penulisnya diganti yang orang prancis dengan versi komik itu). terus yang sekolah2 cewek seperti mallory towers, gadis badung dan si kembar. lengkap lho, tapi sekarang sudah dikasih ke keponakan. paling suka bagian pesta tengah malam, mesti ada limun jahe. setelah dewasa baru tahu, oh, maksudnya ginger ale πŸ™‚

  2. angga chen Said:

    permisi mumpang lewat doang…thanks

  3. Indah Said:

    MpokB.. iya, Mpok, sukaa bangets ama karya2nya si Enid, tapii.. perasaan kalo 5 Sekawan sih gua ngga baca, hehehe.. Lebih senang Pasukan Mau Tahu, seri Petualangan, Noddy ama cerita lepas macam Anak2 Liar, Rumah Pohon di Tengah Hutan, dsb.

    And pastinyaa.. ngga ketinggalan serial kehidupan asrama itu donks, ahahaha.. baca itu gua sampe berasa pengeeeen ngerasain sekolah berasrama seperti yang ada di cerita itu ^o^

    Seru ya, Mpok, acara pesta tengah malamnya ituu..

    Waahh.. beruntung bangets tuh keponakan dapat warisan berharga, Mpok!!

  4. Indah Said:

    Angga.. silahkan.. ati2, keluarnya jangan ampe nyasar yaa πŸ˜›


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: