27 Dresses While You Were Sleeping

Ohohoho..

Judul di atas sebenarnya gabungan dari 2 judul film :p

Yang pertama adalah : 27 Dresses.

Yang kedua tentunya the famous movie : While You Were Sleeping.

Tadinya seeh cuman mau ngebahas film yang kedua aja karena ‘While You Were Sleeping’ itu salah satu film favorit gua ^o^

Sementara ’27 Dresses’ lumayan ok sih tapi ngga sampai masuk daftar all-time fave movie githu dhe 😀

Tapi akhirnyaa..

Gua putuskan untuk menyatukan keduanya karena gua menemukan suatu kemiripan yang dialami kedua tokoh utama wanita dalam cerita tersebut.

Cerita dikits ya tentang kedua film tersebut.

27 Dresses

Cerita tentang seorang wanita yang udah sering bangets jadi pengiring pengantin wanita sampai akhirnya seorang wartawan lokal berniat meliput kisahnya.

Duh, gua lupa nama tokoh perempuannya tapi dia yang main di serial “Grey’s Anatomy” sebagai Izzie, nah nih wanita kesemsem kelas berats ama bos-nya tapi dia ngga berani menyatakan perasaannya.

Setelah sekian tahun memendam perasaan, tau2 malah si bos jatuh cinta ama adik perempuannya si Jane, Tess (tadi udah ngintips ternyata di sini si ‘Izzie’ berperan sebagai Jane :p)

Wakss.. Mana pakai acara mau married pula!

Jane jelas sebel donks, terlebih karena sang adik ngorek2 info tentang si bos dari dirinya dan sang adik berusaha nge-match-in antara dirinya dan sang bos walaupun harus berbohong, demi menarik hatinya.

Yang bikin Jane makin marah adalah ketika Tess merampas impian pernikahannya dengan mau mengadakan pernikahan di tempat dulu orangtua mereka mengucapkan janji setia sehidup semati dalam ikatan pernikahan.

Ditambah lagi gaun pengantin ibunya dulu diberikan sang ayah kepada Tess padahal Jane memimpikan menikah dengan memakai gaun ibunya. Yang bikin Jane makin kesal pada adiknya adalah karena gaun pengantin ibunya itu dirombak oleh Tess.

Hati Jane panas akan kelakuan adiknya yang dianggapnya telah mengambil semua hal yang diimpikannya, karenanya tepat sehari sebelum pernikahan, Jane membongkar semua kebohongan Tess di hadapan bos-nya itu yang membuat pernikahan dibatalkan.

Tadinya Jane pikir dirinya bakal puas namun ternyata kepuasan karena telah berhasil membalas semua perbuatan adiknya itu hanya berlangsung sesaat karena setelahnya ia merasa menderita dan merana serta menyesal.

Dan *ehem* tadinya gua berharap bakal ada catfight yang seru melibatkan acara cakar2an or gimana githu antara si Jane ma Tess tapi pertengkaran antara 2 saudari ini cuma berlangsung singkat lalu kemudian kembali berbaikan *sigh*

Jane sempat berciuman dengan bos-nya tapi akhirnya dia menyadari bahwa ngga ada chemistry di antara mereka and apa yang selama ini dia bayangkan itu ternyata ga sesuai kenyataan.

In the end Jane lebih memilih untuk bersama dengan Kevin sang reporter pernikahan yang walau sempat membuatnya marah karena memuat artikel tentang dirinya tanpa ijin, Jane menyadari bahwa dirinya sudah tertarik ama Kevin tanpa disadarinya dan waktu2 yang sempat dilaluinya bersama Kevin sepanjang film membuatnya mau tak mau mengakui bahwa Kevin lebih pas untuknya dibanding sang bos.

Film ini pun berakhir happy ending dengan pernikahan antara Jane (yang memakai gaun pengantin ibunya) & Kevin.

Dan apa jadinya dengan 27 baju pengiring pengantin milik Jane yang selama ini memenuhi lemari pakaiannya?

Ohohoho.. Jangan kuatir, mereka semua sudah kembali ke pencetus ide awalnya, ahahaha :p

Sekarang masuk ke film kedua.

While You Were Sleeping

Aww.. I love this movie so very much, ntahlah, semua bagian dari film ini terasa pas and ngga terlalu bertele2 juga jadinya biar kata ditonton over and over again yaa tetap otree juga.

Adalah Lucy (diperankan Sandra Bullock) yang menjadi tokoh utama cerita ini.

Lucy bekerja di bagian loket stasiun kereta api. Sudah beberapa lama Lucy jatuh cinta sama salah satu penumpang tetap kereta api yang selalu membeli tiket di loketnya.

Lucy jatuh cinta pada Peter, eksekutif muda yang bahkan tidak pernah memandang dirinya ketika membayar tiket.

Hingga di hari Natal ketika Lucy menggantikan temannya yang tidak bisa bertugas, tiba2 Lucy mendengar ucapan ‘Merry Christmas’ di antara dentingan koin.

Ketika mendongakkan kepalanya, there he was, Peter, as handsome as ever (menurut Lucy lho yaa, bukan menurut gua :p) dengan senyuman menghiasi wajahnya yang membuat Lucy terpana.

Ketika Lucy berhasil memaksa mulutnya untuk terbuka dan melontarkan ‘Merry Christmas’ ke Peter, ternyata udah terlambat karena Peter telah berlalu dan sedang menunggu kereta api di peron.

Lucy masih memandangnya ketika seseorang merebut tas Peter dan membuat Peter terjatuh ke rel kereta api, oohh noo, soalnya dari kejauhan udah terdengar suara kereta api yang akan segera tiba.

Lucy panik dan segera berlari ke arah Peter. Berhubung lagi Natal jadi orang yang berpergian juga sedikit, mau ngga mau tergantung pada Lucy untuk menyelamatkan Peter.

Dan Lucy berhasil menarik Peter ke pinggiran rel sehingga ketika kereta lewat, mereka ngga terlindas.

Adegan beralih ke rumah sakit, keluarga Peter heboh karena putra dan cucu kesayangan mereka terbaring koma di rumah sakit.

Dalam segala kekacauan dan kepanikan yang terjadi, keluarga Peter salah menganggap Lucy sebagai tunangan Peter dan Lucy tidak sempat memberitahu mereka yang sebenarnya, tau2 saja Lucy telah terjerat dalam kehangatan keluarga Peter yang memperlakukannya sebagai bagian dari keluarga mereka.

Lucy yang hidup sebatang kara sejak kematian orangtuanya, menikmati kehangatan dan kebersamaan yang diberikan keluarga Peter dengan tulus, hal ini membuatnya makin tidak bisa mengungkapkan semuanya kepada mereka.

Situasi makin runyam dengan kehadiran Jack, adik lelaki Peter yang kembali ke keluarga untuk berlibur. Perlahan2 benih2 cinta mulai tumbuh di hati Lucy dan Jack karena mereka sering menghabiskan waktu bersama.

Keakraban mulai terjalin selama Peter ‘tertidur’ dan baik Jack maupun Lucy menyadari bahwa mereka menyukai satu sama lain lebih dari sekedar hubungan antara calon ipar, tapi ‘status’ Lucy sebagai tunangan Peter membuat keduanya tidak bisa mengungkapkan perasaan masing2.

Untuk membuat situasi makin runyam, Peter terbangun dari tidur panjangnya, huehehe :p

Dan ketika sadarkan diri, Peter tidak mengenali Lucy yang membuat keluarganya menyimpulkan bahwa Peter terkena amnesia, huahahaha ^o^

Lucunya, hanya Lucy yang tidak berhasil diingat Peter sementara hal2 lainnya bisa dia ingat tapi menurut dokter itu mungkin terjadi, hihihi.. Amnesia-nya selektif yaa ‘boo :p

Akhirnya, pernikahan pun digelar antara Peter dan Lucy. Tapi on her wedding day, Lucy memilih untuk mengungkapkan semuanya. Betapa dia tidak ingin membohongi keluarga yang telah memberikan kehangatan bagi orang sebatang kara seperti dirinya.

Dan Lucy juga mengakui bahwa ia telah jatuh cinta pada anak laki2 keluarga tersebut, tapi bukan pada Peter melainkan Jack-lah yang dicintainya.

Otomatis pernikahan pun batal donks.

Lucy kembali ke aktivitasnya sehari2. Hingga suatu hari ketika sedang menjaga loket *tringg* bukannya uang koin tapi ada seseorang yang menaruh cincin sebagai tanda pembayaran tiket.

Lucy mendongak dan menemukan senyum Jack di hadapannya. Hatinya pun meleleh dipenuhi kehangatan *uhuyy*

Dan tentu saja karena ini film termasuk film favorit gua maka berakhir dengan bahagia dan ditutup dengan sebuah pernikahan, ahahaha ^o^

Naahh.. Sekarang masuk ke persamaan antara ’27 Dresses’ ama ‘While You Were Sleeping’.

Kalau menurut gua persamaan yang lumayan mencolok adalah baik Lucy maupun Jane, keduanya cukup lama memendam rasa suka pada seorang pria tanpa berbuat sesuatu untuk menunjukkan rasa sukanya ke orang yang bersangkutan.

In a way it was like mengidolakan seseorang.

You know the person is real, tapi walau dekat, dia serasa berada di luar jangkauan.

Dan biasanya kalau kelamaan memendam rasa suka tapi ngga ada perkembangan berarti ke arah sesuatu yang ‘nyata’, we started fantasizing things.

Mulai ngayal dhe kalau jalan ma nih orang gimana rasanya, apa ya kesukaan dia, eehh kayanya cocok juga kalau didandanin pakai baju ini lalu ngedengerin lagu kesukaan mereka lama2 sambil ngebayangin biasanya tuh orang ngebayangin apa ya kalau denger lagu ini.

Dan masih banyak khayalan lainnya yang terkadang bisa berkembang liar ke mana2 padahal dalam kenyataan yaa ngga ada suatu hal pun yang terjadi, huehehe.

Dan karena keasyikan ngayal, by the time we got the chance to be with this person in real life situation, most of the time bakal kuciwa dinks.

Lhoo, ternyata cuman segini aja toh? Kok ga seasyik khayalan gua?

Lessons of the day :

Jangan kebanyakan ngayal!

Hahahaha :p

Aahh yaa, ngomongin ini gua jadi inget satu movie lagi yang mirips, yaitu ‘Love Wrecked’ yang diperankan Amanda Bynes tapi bedanya kalau yang ‘While You Were Sleeping’ ama ’27 Dresses’ khan baik Lucy maupun Jane sama2 suka ama pria yang benar2 ada dalam kehidupan mereka (dalam artian non selebritis), sementara si Amanda Bynes jatuh cintanya ama seorang pop singer githu dhe.

Anywayy..

Part yang ini bikin gua wondering dhee..

Emang sih it’s nice to have a chance to be with someone you’ve always been dreaming of.

And bukan ngga mungkin mereka bisa jadi pasangan elo one fine day nanti.

Tapi coba dhe look around you. Siapa tau selama ini udah ada someone’s there yang selalu memperhatikan elo, someone you can actually talk to about anything and ngga sekedar having this imaginary conversations in your head.

Someone that cares for you who’s willing to do anything to make you happy.

Someone yang sebenarnya juga means a lot to you but sometimes you just need (some) time to realize it karena your mind is totally consumed with this ‘obsession’ on being with the other person.

Kebanyakan orang baru menyadari apa yang dimilikinya ketika telah terlepas dari genggaman ‘boo, duuhh nasib nasib ‘ga sih, huehehe..

Kalau minjem lirik lagunya Anggun :

Sometimes all you need is only a step away

Iya, terkadang hal yang kita butuhkan tuh udah ada di depan mata kita tapi we’re just too blind to see and lebih memilih untuk fokus ke apa yang ada di (jauuh) di depan sana.

Yaa..

Intinya seeh mungkin bukan ke soal seleb or non seleb, bukan soal idola apa bukan.

Tapi lebih ke arah being with someone yang mana bersama dia you can actually be your ownself and still be loved, uhuyy..

No need to pretend to be someone you’re not just for that person to fall for you 😉

And bukankah lebih enak duduk2 nyantai sambil minum kopi dan asyik berbincang2 tentang topik apaan aja dengan seseorang yang nyambung daripada duduk harus jaim dengan hati terus berdebar kencang ga karuan ketia menatap wajahnya tapi lidah terasa kelu sehingga ga bisa berkata apapun?

Karena biar gimana, kalau dari nasihat2 tentang pernikahan supaya berhasil itu dibilang kalau komunikasi yang baik itu penting ‘boo!

Tapi yaa..

Berhubung di sekitar gua lagi ngga ada orang lain juga seperti yang ada di film2 di atas, boleh donks ngayal2 bentar?

Janji dhee.. Ngayalnya ngga bakal kebablasan!

Ahahahaha :p

-Indah-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: