Expired Date

Kalau diterjemahkan (semoga ngga salah :p) : tanggal kadaluarsa.

Kalau lagi ngomongin makanan, tentu aja makanan yang udah melewati tanggal kadaluarsa itu udah ngga layak dikonsumsi karena jika tetap dimasukkan ke dalam tubuh, bukannya membawa manfaat tapi lebih mungkin membawa bencana!

Sebenarnya bukan expired date di makanan sih yang mau gua bahas.

Tapi lebih ke arah relationship.

Eheemm..

Please dhe aahh, kalau ngomongin relationship khan ngga harus dalam konteks suami-istri or pacaran khan?

Tapi gua mau bahas in any kind of relationships karena mungkin yaa ini emang bisa di-apply.

Walau, ehemm, pemicu yang bikin gua jadi mikir soal ‘expired date’ ini ya emang berasal dari hubungan suami istri, hahaha :p

Akibat sampingan dari seringnya nonton tayangan infotainment adalah jadi sering dapat info2 rada ‘ajaib’ yang terkadang sulit didapatkan dari lingkup sekitar.

Atau gua-nya aja yang kurang gaul makanya ngga dapat info ini, hahaha :p

Salah satu perkataan ‘artis’ yang lumayan ‘berkesan’ buat gua ketika mereka mengakhiri hubungan mereka, terutama yang udah terikat pernikahan adalah ketika mereka bilang alasan kenapa mereka bercerai adalah karena :

Jodohnya cuma sampai sini aja.

Perkataan mereka itu lumayan terngiang2 terus dan berputar2 di dalam otak gua.

Masa sih yang namanya hubungan suami istri itu adalah expired date-nya?

Kenapa bisa ada tanggal kadaluarsanya githu?

I’ve never been married jadi yaa ngga tau juga gimana rasanya menjalani kehidupan pernikahan.

But again, gua demen menyimpulkan, huehehe :p

Jadi hasil dari comot sekilas berita sana sini sambil melirik ke kanan dan ke kiri.

I have to admit that at some point, mereka benar.

Ada expired date untuk segala hubungan.

Something in the relationship just died.

Either love or something else.

But things weren’t the same anymore.

Don’t get me wrong.

Gua masih penganut paham menikah itu hanya sekali seumur hidup.

Setidaknya buat gua, kalau orang lain mau memilih paham yang berbeda ya silahkan karena itu hidup mereka jadi seharusnya ya pilihan juga ada di tangan mereka.

And kalau udah menyangkut soal hati, masalah itu bisa jadi lebih complicated dari yang seharusnya, huehehe..

Andaikan pas upacara pernikahan, sang istri berkata :

Promise me you’ll never change for the rest of your life

And andai si suami mengiyakan dan terbukti selama mengarungi bahtera rumah tangga si suami tidak berubah sedikitpun dari sejak mengucap janji setia dalam ikatan pernikahan, bukan berarti sang istri tetap berbahagia selama itu.

Okay..

Mungkin sang suami benar2 tidak berubah.

Tapi bagaimana bila sang istri yang berubah?

Bagaimana apa yang dulu terasa sempurna di mata sang istri dalam diri sang suami, kini tidak lagi dirasakannya sama?

Bagaimana bila sang istri menginginkan hal yang berbeda?

Buat gua, kayanya sih almost impossible lah elo bisa stay the same all your life tanpa ada perubahan secuilpun.

Karena day by day we change, mungkin ngga berubah drastis menjadi seseorang yang totally extreme and amat berbeda dari diri kita sebelumnya.

Tapi perubahan itu pasti terjadi.

Karena apa?

Tiap hari kita berinteraksi dengan orang lain.

Like it or not, sesuatu yang kita perbincangkan dengan orang lain itu bisa membawa perubahan dalam diri kita, baik ke arah positif maupun negatif.

Kadang kenyataan ngga seindah impian.

Di kala kita ingin adanya perubahan, yang kita dapatkan justru kondisi stagnant.

Di lain waktu saat ingin segalanya berlangsung stabil, badai menerpa dan memporakporandakan segalanya.

Bukan berarti ngga berusaha mempertahankan apa yang ada.

Tapi terkadang..

Hanya satu yang berjuang sementara pihak satunya lagi ngga peduli.

Kalau udah gini maahh.. Perlahan tapi pasti akan menuju ke tanggal kadaluarsa dhe aww..

Sadly to say, kalau lagi ngomongin soal pernikahan, hal ini terjadi di early stage of marriage ‘boo!

That somehow makes me wonder..

Ke mana perginya semua cinta yang membara itu, yang membuat mereka ingin cepat2 mengukuhkan hubungan dalam suatu pernikahan?

Hmm hmm gua lupa kemarin ini denger di mana yaa?

Ada yang cerita bahwa setelah 50 tahun menikah, akhirnya pasangan suami istri ini memutuskan untuk bercerai!

Keputusan ini mereka ambil karena anak mereka semuanya telah menikah jadi tidak ada hal lainnya yang membebankan mereka untuk tetap terikat sebagai suami istri.

For me personally..

Gua ngga pengen punya ortu yang seperti itu, yang bertahan dalam hubungan yang mungkin terasa seperti neraka bagi mereka, hanya demi anak2.

Karena somehow gua masih percaya kalau actions itu masih speak louder than words.

And children learned lots of stuff from their parents, mostly bukan dari apa yang mereka katakan tapi lebih ke apa yang mereka perbuat.

Percuma aja seorang ayah ngomong sampai berbusa ke anak lelakinya untuk menghormati wanita bila sang anak terus dipertontonkan adegan ayahnya dengan ringan tangannya menampar sang ibu kadang tanpa alasan yang jelas.

And again..

Dua orang yang melihat hal yang sama, bisa merasakan reaksi yang berbeda.

Mungkin keduanya merasakan kebencian yang sama terhadap sosok ayah mereka yang menyiksa ibunya.

Namun anak yang satu mungkin tumbuh jadi abusive seperti ayahnya dan yang satunya lagi akan extremely care ama pasangannya.

Oh iyaa..

Seperti biasa, cuman mau memperingatkan, gua kalau cerita emang suka muter2, kadang suka ngga nyambung pula, haha, tapi tenang pasti akan ada saat mencapai kata penutup kok, hahaha :p

Back again to the marriage thing.

Gua ga mendukung perceraian karena di agama gua diajarkan bahwa apa yang telah dipersatukan oleh Tuhan, ngga boleh diceraikan oleh manusia.

Tapi dalam kasus tertentu gua lebih bisa menghargai orang yang memutuskan bercerai demi kebahagiaan dirinya daripada mereka yang memutuskan bertahan dalam pernikahan yang menyiksa lalu menularkan rasa frustasi mereka ke anak2nya.

Dalam kasus yang bercerai setelah 50 tahun menikah di atas, sometime gua bertanya2, gimana ya perasaan anak mereka ketika orang tua yang mungkin dijadikan panutan itu ternyata bercerai?

Dan keharmonisan yang selama ini dipertontonkan di depan anak2 mereka ternyata adalah sesuatu yang semu?

Buat gua, hal itu pasti akan meruntuhkan segala image yang udah tertanam dalam benak gua.

Terlebih kalau gua mengidolakan ortu gua sebagai pasangan suami istri teladan and I want to be just like them when I get married one day.

Gua juga akan merasa bersalah, karena demi diri gua, orang yang gua sayangi harus merasakan penderitaan batin dan makan hati dalam pernikahan yang udah ngga lagi berjalan dengan sehat.

Dan pastinyaa..

Gua jadi ngga tau lagi apa yang harus gua percayai.

Banyak yang bilang bahwa ortu itu jangan sekalipun berantem di depan anak mereka karena ngga bagus buat perkembangan jiwa sang anak.

Tapi menurut gua once in a while elo perlu bertengkar di depan anak, supaya anak elo lebih punya bayangan yang realistis terhadap pernikahan, dan ngga hidup di awang2 ala Cinderela where they live happily ever after!

Gua sering denger orang bilang kalau dalam hal pernikahan itu musti banyak2 belajar ngalah ama pasangan.

In a way gua setuju, asalkan porsinya berimbang, dan bukannya hanya satu pihak aja yang harus mengalah secara membabi buta terhadap pihak lainnya tanpa ada pertukaran peran.

Huaa.. Bukan gua yang ngalamin aja gua ngerasa gregetan akan kondisi ketimpangan ini.

Apalagi kalau gua yang harus ngerasain berada di pihak yang ‘tertindas’ pula, aarrrgghh, noo!!

Ehemm.. Udah melenceng terlalu jauh kayanya, ahahaha ^o^

Mari balik ke soal kadaluarsa.

Pernah ngga kalian punya teman yang dulu akrab sekali tapi sekarang udah menghilang dari kehidupan kalian?

Coba diingat2 dhe, kenapa kalian akhirnya menjauh?

Dan usaha apa aja yang udah kalian lakukan untuk kembali dekat dan akrab seperti dulu?

Kadang sih ada orang-orang tertentu yang pergi untuk kembali.

Tapi ada juga yang sekalinya udah lepas dari tangan maka dia ngga akan kembali masuk ke dalam genggaman kita lagi.

I used to think that friendship lasted forever.

Mungkin ini dipengaruhi faktor gua ngga gampang dekat ama orang.

Jadi sekalinya nemu yang ‘click’ biasanya gua akan menjaga hubungan di antara gua dan orang itu.

Tapi terkadang sebaik2nya gua menjaga, tetap ada sesuatu yang luput dari perhatian gua yang akhirnya membuat story of our friendship came to an end, belum finish completely sih karena biar gimana selama masih sama2 ada di dunia ini, kesempatan untuk kembali menjalin hubungan masih terbuka khan?

Tapi as for now, I had to say goodbye.

We used to finish each other’s sentences saking udah nyambungnya.

Tapi belakangan boro2 berada dalam alam pikiran yang sama, setiap kata yang diucapkan itu pasti diinterpretasikan secara bertolak belakang dari yang dimaksudkan, huehehe..

Kalian pernah ngga punya seseorang dalam hidup kalian yang mana dulu kalian pernah mengecap masa2 manis bersama, dan walaupun hubungan kalian dengan orang tersebut berakhir dengan keributan, somehow kalian tetap ngga bisa sepenuhnya mengenyahkan sosok orang itu dalam hati dan pikiran kalian?

For me, dia salah satu orangnya, seseorang yang dulu pernah jadi sahabat terdekat gua.

And gua rasa salah satu alasan kenapa gua ngga bisa totally forget dirinya adalah karena secara sadar gua menetapkan dia sebagai sahabat pertama gua.

Gua pernah punya beberapa teman akrab sebelumnya tapi ga pernah ada yang sampai seakrab dia.

Mungkin benar juga ya kalau dibilang hati kita ini ibarat terdiri dari potongan kepingan puzzle yang mana tiap kepingan itu bentuknya berbeda satu dengan yang lainnya.

Jadi biar kata gua udah mendapatkan beberapa kepingan baru berupa sahabat, tetap aja kepingan2 yang baru ini don’t fit di hole yang ditinggalkan oleh sahabat pertama gua itu.

Dari dulu pas jaman skul, tiap ngasih kartu ucapan ntah ultah ataupun Natal atau kartu2 iseng lainnya, gua sering menyelipkan kata ‘friends forever’ di sela ucapan yang gua tuliskan di dalam kartu tersebut.

Tapi beberapa tahun terakhir tulisan itu perlahan mulai lenyap.

Bukannya gua ngga ingin persahabatan gua bisa bertahan sampai tiba saatnya meninggalkan bumi ini.

Tapi lebih karena apa ya? Gua lebih sadar kali bahwa kata ‘forever’ itu dalam bangets maknanya.

Dalam semangat mencurahkan apa yang bener2 dirasakan hati, gua ngga yakin bisa hold on to that word ‘forever’ sepanjang sisa hidup gua.

Kenapa?

Karena gua ngga tau ke depannya gimana. Gua juga ngga tau apakah gua akan tetap merasakan hal yang sama ke sahabat gua itu beberapa tahun ke depan nanti.

Akankah gua tetap merasa nyaman berteman dengannya?

Akankah gua tetap menjadikannya tempat gua mencurahkan isi hati gua?

Gua ngga bisa menjanjikan semuanya itu.

Gua hanya bisa mengucapkan terima kasih bahwa sampai dengan detik di mana gua menuliskan segala ucapan itu, mereka telah membuat hidup gua berwarna, mereka udah membuat gua bahagia, mereka membuat gua tertawa dan menangis bersama.

Gua ngga bisa menjanjikan masa2 itu bisa berlangsung selamanya tapi setidaknya gua menghargai waktu2 yang selama ini kami habiskan bersama.

Jadi yaa..

Mencoba lebih realistis aja dhe..

Berhubung I can’t trust my heart to always feel the same, penggunaan kata ‘forever’ akan diminimalisir, huehehehe :p

Aahh.. Ternyata bener..

Gua demen cerita ngalor ngidul ke sana sini..

Tapi ternyataa..

Ngga nyambung!

Wakakakakak..

Jaka Sembung makan bakpau..

Suka2 gua donks aww, huahaha ^o^

Kenapa si Jaka Sembung ini beken bener sih ya?

Siapa seeh Jaka Sembung ini?

Ada yang tau?

Hmm.. Hmm..

Jadi wondering, apakah dalam sisa perjalanan hidup gua ini, gua akan kembali dipertemukan dengan sahabat pertama gua itu?

Only time can tell..

-Indah-

Advertisements

2 Comments »

  1. Pernah Ndah, ada temen akrab bgt.
    Tau pas gue jadi setan, pas adi munafik, pas sok alim,
    pas beneran alim.

    Sayang something happened between us over a man.
    ya sudah mau gimana lagi.
    Gak bisa dipaksain πŸ™‚

    Semoga lu bisa dipertemukan dengan sahabat pertama lu itu Ndah, tapi kalo enggak, bisa liat kiri kana atau baca komen2 di blog lu
    ada koq yg membuka tangannya lebar2 untuk menjadi sahabat lu πŸ˜€

    Luv,
    EKA

  2. Indah Said:

    Kadang sedih ya, Kaa, ketika harus berakhir, karena biar gimana menemukan sahabat itu ngga gampang.

    Tapii yaa.. mo tetap dipaksain juga ‘feel’-nya udah ngga dapat, ngga seperti dulu lagi, beda aja, kerasa lebih hambar, huhuhu..

    Hihihi.. siapa tuh? Elo bukan, Kaa? *gr mode is on* :p


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: