I Notice The Difference

Dalam sesi telp2an ria dengan one of my best friend, gua cerita ke dia soal temen, sebut saja namanya DL yang dengan gampangnya menceritakan hal yang menurut gua suatu hal yang ‘privat’ tapi dia ceritakan tanpa beban di hadapan CM, teman yang mungkin kalau mau dikategorikan statusnya baru ‘kenalan’, atau ‘tau sama tau tapi ga mendalam’.

Kemarin ini di salah satu postingan gua di MP, Onit bilang emang begitulah sifat orang extrovert, mereka lebih terbuka menceritakan masalah mereka dibanding orang introvert.

Temen gua yang ada di ujung telp nanya :

Mang si DL itu extrovert?

Well.. Dia sih kayanya belum pernah ngambil tes yang gua kasih link-nya tentang personality test but yeah, gua rasa DL itu extrovert.

Lalu temen gua nanya lagi :

Kalau githu si WD juga extrovert donks?

Lalu dia mengingatkan gua kalau WD juga pernah curhat sesuatu yang ‘mendalam’ di hadapan CM padahal CM itu ga bisa dibilang teman dekat.

Lalu gua menyadari sesuatu.

Akan perbedaan dari ‘curhatan’ si DL and si WD.

DL dengan gamblangnya menceritakan soal kebobrokan orang yang dekat dengannya but never once gua mendengar curhatannya mengenai bagaimana perasaannya sehubungan dengan perbuatan orang tersebut.

Si DL hanya sibuk menceritakan sisi buruk dari orang itu.

Sementara things a little different dalam sesi curhat ala WD.

So many times gua denger WD said..

Kok mereka githu sih ama gua? Mang gua salah apa ama mereka?

Trus WD juga bilang kalau dia cape menghadapi mereka, and so on.

Kalau menurut Diah, orang ga ada yang pure 100% extrovert ataupun 100% introvert, pasti setiap dari kita punya kedua sisi itu hanya saja persentasenya beda dan biasanya satu lebih menonjol dibanding yang lain and ini sifatnya ga tetap karena bisa berubah seiring waktu.

Tapi sepertinya berdasar pengalaman yaa, gua ga terlalu klik dhe ama orang ‘ekstrovert’.

Sometimes dia yang cerita tentang masalah pribadinya sampai mendetail, gua yang ga tahan dengarnya karena menurut gua there are some personal things that you should keep for yourself or share it only with your closest friends aja, bukannya digumbar ke siapa aja yang ada di sekitar elo.

Dan lagi berhubung orang extrovert ini biasanya lebih lively and dia punya a wide circle of acquintances, pastilah tiap kali ketemuan ama dia there’s always a story to tell.

Sometimes it’s nice for a change, bisa membuka mata elo tentang kehidupan banyak orang dengan berbagai macam ragam watak yang beda.

But come on, masa tiap kali ketemuan gua musti dengerin berita soal someone I hardly know seeh?

Kenapa ga fokus aja ama apa yang ada? Cerita tentang kehidupan kami sendiri?

Mungkin ini bukan karena ke-extrovert-annya tapi emang dia sifatnya ya githu, ga terlalu peduli ama orang lain.

Focus of attentions pasti kembali lagi ke dirinya, ga peduli sebelumnya lagi ngomongin tentang apaan, pasti dia bisa smartly changed the topic and dia akan kembali do the talking.

Karena hal itu pulalah gua mengurangi frekuensi berhubungan ama si DL ini.

Sesekali sih masih ok2 lah buat ketemuan or jalan bareng.

Tapi kalau every weekend harus dihabiskan bersamanya?

Please dhe aahh..

I’d rather spending time at home watching movies or reading!

Karena kalau kelamaan bersamanya bisa bikin energi gua menguap and spirit gua makin berkurang, huehehe :p

Tentu aja ini semua khan diliat dari sisi gua, hihihi..

Jangan2 selama ini dia justru ngerasa gua yang menyedot energinya, hahaha ^o^

-Indah-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: